
depokmedia.com – Program Wisata Keberagaman yang digagas oleh Pemerintah Kota Depok sejak awal mendapatkan kritik dari berbagai kalanagan.
Di tengah jargon efisiensi dan perubahan yang digaungkan Pemkot, program tersebut justeru seolah-olah hanya menghamburkan anggaran saja.
Terbaru, program tersebut kembali menjadi perhatian publik setelah seorang peserta asal Kelurahan Serua, Kecamatan Bojongsari, meninggal dunia usai mengalami insiden di area parkir Masjid Agung Banten, Sabtu (4/7/2026).
Musibah tersebut memicu duka mendalam sekaligus memunculkan kabar bahwa pelaksanaan program akan ditunda sementara untuk menjalani evaluasi.
Korban diketahui berinisial S (50), warga RT 03/RW 01 Kelurahan Serua.

Saat kejadian, korban mengikuti kegiatan wisata bersama rombongan dan hendak kembali menuju bus usai melaksanakan agenda ziarah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden terjadi ketika sebuah bus lain yang berada di area parkir bersiap meninggalkan lokasi.
Pengemudi diduga tidak mengetahui korban berada di belakang kendaraan. Saat bus bergerak dan berbelok, korban diduga terjepit pada salah satu bagian kendaraan.
Dalam situasi tersebut, cucu korban yang ikut mendampingi berhasil diselamatkan oleh sopir bus rombongan.
Sopir tersebut bahkan sempat menggedor badan bus sebagai upaya menghentikan kendaraan yang terus bergerak.
Namun, padatnya kendaraan di area parkir dan posisi korban yang diduga berada di titik yang sulit terlihat membuat pengemudi bus tidak menyadari adanya korban di belakang kendaraannya.
Korban kemudian dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat dalam keadaan masih sadar untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Karena mengalami luka yang cukup serius, korban dirujuk ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan menuju rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia.
Panitia rombongan selanjutnya berkoordinasi dengan pihak Kelurahan Serua untuk proses pemulangan jenazah. Ambulans kemudian membawa jenazah kembali ke Kota Depok untuk dimakamkan.
Ketua RT 03/RW 01 Kelurahan Serua, Abdullah, mengatakan pengemudi bus yang terlibat telah mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus meminta maaf kepada keluarga korban.
“Kalau dari sopir busnya sendiri semalam sudah datang ke kediaman duka menemui keluarga untuk meminta maaf dan belasungkawa. Tapi memang kita juga masih menunggu pihak pimpinan dari bus tersebut untuk pertanggungjawabannya seperti apa,” ujarnya saat ditemui, Minggu (5/7/2026).
Abdullah menjelaskan kendaraan yang terlibat bukan merupakan bus yang mengangkut rombongan peserta Wisata Keberagaman asal Kelurahan Serua.
“Enggak, jadi bukan dari bus rombongan. Tapi memang dari bus lain yang memang saat kejadian ramai kendaraan kondisinya,” katanya.
Pemerintah Kota Depok turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, didampingi Sekretaris Daerah, camat, lurah, serta pengurus lingkungan mendatangi rumah duka sebagai bentuk empati kepada keluarga almarhumah.
“Kami juga mewakili Bapak Wali Kota atas nama Pemerintah Kota Depok menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhumah yang meninggal dunia saat mengikuti kegiatan wisata keberagaman,” ujar Chandra sebagaimana dikutip dari akun Instagram resmi Pemerintah Kota Depok.
Di tengah suasana duka, beredar pesan berantai melalui aplikasi WhatsApp yang ditujukan kepada camat dan lurah di Kota Depok.
Isi pesan tersebut menyebutkan bahwa pelaksanaan Program Wisata Keberagaman diminta ditunda sementara menyusul meninggalnya salah seorang peserta.
Dalam pesan tersebut juga disebutkan bahwa kelurahan yang belum melaksanakan kegiatan diminta memberikan pengertian kepada peserta sambil menunggu hasil evaluasi.
Selain itu, terdapat arahan agar pengajuan Surat Perintah Membayar (SPM) untuk kegiatan Wisata Keberagaman ditunda hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.
Beredarnya pesan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Pemerintah Kota Depok akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Wisata Keberagaman, terutama menyangkut aspek keselamatan peserta selama perjalanan dan kegiatan berlangsung.
Namun hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kota Depok belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi kebenaran isi pesan WhatsApp tersebut. Belum ada kepastian apakah program benar-benar dihentikan sementara atau hanya dilakukan penyesuaian teknis sambil menunggu hasil evaluasi.
Pemerintah juga belum menyampaikan keputusan resmi mengenai kelanjutan Program Wisata Keberagaman maupun langkah-langkah yang akan ditempuh sebagai tindak lanjut atas musibah yang menimpa peserta asal Kelurahan Serua tersebut.


Tinggalkan Balasan