depokmedia.com – Video yang memperlihatkan dugaan penganiayaan terhadap seorang anak di bawah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) depan Margocity, Jalan Margonda Raya, Kota Depok, viral di media sosial dan memicu perhatian luas dari masyarakat.

Rekaman berdurasi singkat itu menunjukkan seorang pria paruh baya diduga melakukan kekerasan terhadap anak hingga korban mengalami luka pada bagian wajah.

Peristiwa tersebut langsung mengundang reaksi warga yang berada di sekitar lokasi.

Sejumlah orang bergegas menghampiri pelaku untuk menghentikan tindakan yang dianggap membahayakan anak tersebut.

Di saat bersamaan, beberapa warga merekam kejadian menggunakan telepon genggam dan mengunggahnya ke media sosial hingga videonya menyebar luas.

Dalam rekaman yang beredar, pria tersebut tampak memarahi anak sambil melakukan tindakan yang memicu kecaman warga.

Korban terlihat menangis ketika sejumlah orang berusaha memberikan perlindungan dan menjauhkan anak dari pelaku.

Situasi di lokasi sempat memanas karena warga mempertanyakan tindakan pria tersebut.

Meski mendapat teguran dari masyarakat, pelaku justru terlihat menanggapi dengan nada tinggi dan menantang warga untuk melaporkannya kepada aparat kepolisian.

“Sono laporin (polisi), ini anaknya bandel,” ucap pelaku sebagaimana terdengar dalam video yang beredar di media sosial.

Video itu kemudian memunculkan beragam spekulasi.

Sebagian warganet menduga pelaku merupakan orang tua angkat atau bapak asuh korban, sementara yang lain mempertanyakan kemungkinan adanya eksploitasi terhadap anak.

Menanggapi ramainya pemberitaan di media sosial, jajaran Polres Metro Depok bergerak cepat melakukan penelusuran.

Polisi mengamankan pria yang diduga melakukan kekerasan sekaligus meminta keterangan dari orang tua korban untuk mengetahui kronologi kejadian secara menyeluruh.

Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Made Gede Oka Utama, mengatakan penyidik telah memeriksa sejumlah pihak setelah video tersebut viral.

Polisi juga mengumpulkan informasi dari saksi-saksi yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung.

Menurut Oka, sebelum laporan polisi dibuat secara resmi, kedua belah pihak telah memilih menyelesaikan persoalan melalui jalur kekeluargaan.

Penyidik menerima surat pernyataan perdamaian yang dibuat oleh pelaku dan keluarga korban serta mendokumentasikan keterangan mereka sebagai bagian dari proses penanganan.

Oka juga meluruskan informasi yang berkembang di media sosial terkait identitas pelaku.

Ia menegaskan pria tersebut bukan bapak asuh maupun orang tua angkat korban sebagaimana yang banyak beredar di berbagai platform digital.

“Pelaku itu bukanlah bapak asuh atau memiliki hubungan keluarga dengan korban tersebut,” ujar Oka dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan pelaku hanya dikenal oleh ibu korban dan memiliki hubungan sebagai kerabat atau tetangga.

Penjelasan tersebut sekaligus membantah berbagai informasi yang belum terverifikasi yang sempat berkembang setelah video viral.

Selain mengusut dugaan tindak kekerasan, polisi turut mendalami kemungkinan adanya eksploitasi terhadap anak.

Namun, hasil pemeriksaan sementara belum menemukan indikasi bahwa korban dipaksa mengemis atau menjadi bagian dari praktik eksploitasi.

Menurut penyidik, anak tersebut berada di kawasan JPO karena sedang menemani ibunya yang berada di sekitar lokasi.

Dugaan kekerasan muncul setelah pelaku mengaku kesal terhadap perilaku korban saat kejadian berlangsung.

Meski demikian, polisi tetap melakukan pendalaman terhadap seluruh informasi yang diperoleh agar tidak ada fakta yang terlewat dalam penanganan perkara.

Oka menambahkan bahwa penyelesaian melalui jalur damai dilakukan atas kesepakatan kedua belah pihak sebelum proses pelaporan secara resmi berjalan.

Seluruh dokumen perdamaian telah diterima penyidik sebagai bagian dari administrasi penanganan kasus.

“Kami sampaikan bahwa sebelum membuat laporan polisi secara resmi, kedua belah pihak tersebut sudah melakukan perdamaian. Surat perdamaiannya pun lengkap dan kami juga sudah mengambil testimoni,” katanya.

Setelah proses mediasi berlangsung, situasi di lingkungan sekitar lokasi kejadian kembali kondusif.

Meski demikian, video yang telanjur viral tetap memicu perhatian publik mengenai pentingnya perlindungan anak di ruang publik serta perlunya penyelesaian setiap dugaan tindak kekerasan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa masyarakat memiliki peran penting untuk segera memberikan pertolongan ketika melihat dugaan kekerasan terhadap anak.

Respons cepat warga di lokasi membantu menghentikan dugaan aksi penganiayaan sekaligus memastikan korban segera mendapat perlindungan sebelum aparat kepolisian menangani perkara tersebut lebih lanjut.