depokmedia.id – Aktivitas masyarakat yang menyeberang di kawasan Halte Sugutamu, Jalan Juanda, Kota Depok, kini dibayangi rasa khawatir.

Fasilitas Pelican Crossing yang seharusnya menjadi sarana keselamatan bagi pejalan kaki diduga sudah tidak berfungsi selama kurang lebih satu tahun.

Akibatnya, warga terpaksa menyeberangi salah satu ruas jalan dengan arus lalu lintas terpadat di Kota Depok tanpa perlindungan dari sistem lampu penyeberangan yang seharusnya memberikan prioritas bagi pejalan kaki.

Kondisi tersebut menjadi perhatian masyarakat karena Jalan Juanda merupakan jalur utama yang setiap hari dipadati kendaraan roda dua, mobil pribadi, angkutan umum hingga kendaraan berat.

Pada jam-jam sibuk, arus kendaraan nyaris tidak pernah terputus sehingga pejalan kaki harus menunggu cukup lama untuk mencari celah aman sebelum menyeberang.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (26/6/2026) malam, marka zebra cross di depan Halte Sugutamu masih terlihat jelas dan dapat digunakan sebagai jalur penyeberangan.

Namun, perangkat Pelican Crossing yang terdiri dari lampu lalu lintas khusus pejalan kaki dan tombol penyeberangan sudah tidak dapat dioperasikan.

Akibatnya, fungsi utama fasilitas tersebut sebagai pengatur lalu lintas demi keselamatan pejalan kaki praktis tidak lagi berjalan.

Tidak berfungsinya Pelican Crossing membuat masyarakat harus mengandalkan kewaspadaan pribadi ketika hendak menyeberang.

Mereka harus memperkirakan kecepatan kendaraan yang melintas sembari mencari kesempatan agar dapat mencapai sisi jalan lainnya dengan selamat.

Situasi tersebut dinilai sangat membahayakan, terlebih bagi anak-anak, lansia, penyandang disabilitas maupun pengguna transportasi umum yang setiap hari memanfaatkan halte tersebut.

Salah seorang warga, Komang, mengaku cukup sering menggunakan fasilitas penyeberangan di kawasan Halte Sugutamu.

Menurutnya, keberadaan Pelican Crossing memiliki peran yang sangat penting karena menjadi akses utama bagi masyarakat yang hendak menuju halte maupun menyeberangi Jalan Juanda.

Ia berharap Pemerintah Kota Depok melalui instansi terkait segera memperbaiki dan mengaktifkan kembali lampu penyeberangan agar pejalan kaki memperoleh perlindungan yang layak saat melintas.

“Kalau bisa sih, itu juga lampu merah untuk pejalan kaki bisa difungsikan kembali, terus penerangannya bisa ditambah karena kan banyak juga pejalan kaki yang lalu-lalang di sini,” ujar Komang saat ditemui Jumat malam.

Komang menuturkan kerusakan Pelican Crossing bukanlah persoalan baru. Menurut pengamatannya, fasilitas tersebut sudah cukup lama tidak dapat digunakan meskipun setiap hari dimanfaatkan oleh masyarakat yang beraktivitas di sekitar Jalan Juanda.

Padatnya arus kendaraan membuat keberadaan Pelican Crossing menjadi sangat penting.

Ketika sistem tersebut aktif, kendaraan akan berhenti sementara sehingga pejalan kaki memperoleh waktu yang cukup untuk menyeberang dengan aman.

Namun, karena sistem tersebut tidak lagi bekerja, pengguna jalan harus mengandalkan kepedulian pengendara yang belum tentu selalu memberikan prioritas kepada pejalan kaki.

Risiko keselamatan semakin meningkat pada pagi hari ketika masyarakat berangkat bekerja maupun sore hingga malam saat aktivitas pulang kerja menyebabkan volume kendaraan meningkat drastis.

Tidak sedikit pejalan kaki yang harus menunggu beberapa menit hanya untuk mendapatkan kesempatan menyeberang.

Selain persoalan Pelican Crossing yang mati, warga juga mengeluhkan minimnya penerangan jalan di sekitar halte.

Meskipun lampu penerangan jalan umum telah mengalami perbaikan dibandingkan sebelumnya, masyarakat menilai pencahayaan di kawasan tersebut masih belum memadai sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas pada malam hari.

Komang bahkan mengaku pernah mengalami kecelakaan di lokasi tersebut akibat kondisi jalan yang minim pencahayaan.

“Kalau malam penerangannya kurang. Saya kemarin juga habis kecelakaan di sini karena sama-sama enggak kelihatan,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat baik pengendara maupun pejalan kaki sama-sama mengalami kesulitan melihat situasi di sekitar jalan.

Jarak pandang yang terbatas menyebabkan potensi kecelakaan semakin besar, terutama ketika kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi.

Ia juga mengusulkan agar pemerintah menambah jumlah lampu penerangan di sekitar halte. Menurutnya, kawasan tersebut pernah dilengkapi lampu hias yang dipasang pada pepohonan sehingga suasana jalan menjadi lebih terang dan membantu meningkatkan visibilitas pengguna jalan.

“Terus juga ditambah penerangannya. Kayak dulu pernah ada pohonnya dikasih lampu-lampu, itu membantu banget,” ungkapnya.

Komang berharap konsep tersebut dapat kembali diterapkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan pengguna jalan sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang beraktivitas pada malam hari.

Menurutnya, pembenahan yang dilakukan pemerintah sebaiknya tidak hanya terbatas pada menghidupkan kembali lampu Pelican Crossing.

Pemeriksaan secara menyeluruh juga perlu dilakukan terhadap seluruh komponen pendukung, mulai dari tombol penyeberangan, lampu lalu lintas khusus pejalan kaki, kondisi marka jalan hingga sistem kelistrikan yang menjadi penghubung seluruh perangkat.

“Kondisi lalu lintasnya padat banget di sini. Jadi memang harus dibetulkan lagi biar bisa membantu pejalan kaki waktu mau nyebrang,” jelasnya.

Pelican Crossing merupakan salah satu fasilitas keselamatan lalu lintas yang dirancang untuk memberikan prioritas kepada pejalan kaki ketika hendak menyeberang jalan.

Sistem ini memungkinkan pejalan kaki menekan tombol untuk mengaktifkan lampu lalu lintas sehingga kendaraan berhenti sementara dan proses penyeberangan dapat dilakukan dengan lebih aman.

Keberadaan fasilitas tersebut juga menjadi bagian penting dalam mendukung penggunaan transportasi umum karena memudahkan masyarakat mengakses halte tanpa harus menghadapi risiko tinggi saat menyeberangi jalan dengan volume kendaraan yang padat.

Di kawasan Halte Sugutamu, fungsi Pelican Crossing dinilai sangat vital mengingat lokasi tersebut menjadi salah satu titik mobilitas masyarakat di sepanjang Jalan Juanda.

Banyak pengguna angkutan umum, pekerja, pelajar hingga warga sekitar yang setiap hari memanfaatkan jalur penyeberangan tersebut.

Hingga berita ini ditulis, tim adainfo.id telah berupaya menghubungi Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok, Zamrowi, untuk meminta tanggapan terkait keluhan masyarakat mengenai Pelican Crossing Halte Sugutamu yang diduga tidak berfungsi selama sekitar satu tahun.

Namun, hingga saat ini belum ada jawaban maupun penjelasan resmi yang diberikan oleh Dinas Perhubungan Kota Depok.

Masyarakat berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi fasilitas penyeberangan di Halte Sugutamu agar Pelican Crossing dapat kembali berfungsi sebagaimana mestinya.

Selain meningkatkan kenyamanan pengguna jalan, langkah tersebut dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menjamin keselamatan pejalan kaki dan mengurangi risiko kecelakaan di salah satu ruas jalan dengan tingkat lalu lintas tertinggi di Kota Depok.