
depokmedia.com – Kondisi Penerangan Jalan Umum (PJU) yang padam di sepanjang Jalan Raya Jakarta-Bogor KM 36, Kota Depok, kembali menuai keluhan dari masyarakat.
Ruas jalan nasional yang menjadi jalur utama penghubung Jakarta, Depok, dan Bogor itu berubah gelap saat malam hari, sehingga memicu kekhawatiran warga terhadap meningkatnya risiko kecelakaan lalu lintas.
Pantauan di lapangan menunjukkan lampu penerangan tidak menyala mulai dari kawasan Gang Pos hingga Woody.
Padahal, ruas jalan tersebut setiap hari dilalui ribuan kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, angkutan umum, hingga truk bertonase besar yang beroperasi hampir tanpa henti.
Minimnya pencahayaan membuat jarak pandang pengendara berkurang drastis, terutama ketika malam hari atau saat hujan turun.

Kondisi itu dinilai semakin berbahaya karena beberapa bagian permukaan jalan mulai bergelombang akibat tingginya beban kendaraan berat yang melintas setiap hari.
Salah seorang warga sekaligus pengguna jalan, Rahmat, mengatakan kondisi PJU yang padam sudah berlangsung cukup lama.
Hingga kini, menurutnya, belum terlihat adanya upaya perbaikan sehingga suasana jalan tetap gelap setiap malam.
“Emang udah lama, gelap begini kalau malam,” ujar Rahmat saat ditemui di lokasi, Rabu (8/7/2026).
Ia mengaku selalu meningkatkan kewaspadaan setiap kali melintas pada malam hari.
Menurutnya, pencahayaan yang minim membuat pengendara sulit mengantisipasi kondisi jalan maupun kendaraan lain yang melintas dengan kecepatan tinggi.
Rahmat menilai keberadaan PJU memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan pengguna jalan.
Jalan yang gelap membuat potensi kecelakaan meningkat, terutama bagi pengendara sepeda motor yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.
“Namanya gelap, jadi rawan kecelakaan,” katanya.
Selain menyoroti lampu jalan yang padam, Rahmat juga mengeluhkan kondisi permukaan Jalan Raya Jakarta-Bogor yang mulai mengalami kerusakan.
Ia menduga lalu lintas kendaraan berat menjadi salah satu penyebab permukaan aspal bergelombang.
“Ya kan di sini juga banyak truk-truk melintas, mungkin jadi hancur aspalnya,” ungkapnya.
Menurutnya, kombinasi antara jalan yang mulai rusak, volume kendaraan yang tinggi, dan lampu penerangan yang tidak berfungsi menciptakan risiko besar bagi keselamatan pengguna jalan, terutama pada malam hari ketika visibilitas sangat terbatas.
Kondisi tersebut juga dirasakan pejalan kaki yang harus menyeberangi Jalan Raya Jakarta-Bogor pada malam hari.
Rahmat mengaku masyarakat sering merasa waswas karena kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, sementara kondisi jalan yang gelap membuat keberadaan pejalan kaki sulit terlihat.
“Ya pengennya sih penerangan jalan hidup lagi supaya kalau nyebrang enggak takut-takut amat. Karena kalau malam kendaraan kencang-kencang juga. Jadi ngeri kalau mau nyebrang,” tuturnya.
Ia berharap instansi yang berwenang segera melakukan pemeriksaan terhadap jaringan PJU agar penyebab padamnya lampu dapat diketahui dan segera diperbaiki.
Menurutnya, penanganan yang cepat akan mengurangi risiko kecelakaan sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang setiap hari melintasi ruas jalan tersebut.
Rahmat juga mendorong adanya inspeksi dan pemeliharaan rutin terhadap fasilitas penerangan jalan.
Ia menilai langkah tersebut penting agar kerusakan tidak terus dibiarkan hingga menimbulkan keluhan berkepanjangan dari masyarakat.
Sebagai salah satu jalur nasional dengan tingkat mobilitas tinggi, Jalan Raya Jakarta-Bogor memegang peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan transportasi masyarakat.
Karena itu, warga berharap lampu penerangan jalan dapat segera kembali berfungsi sehingga pengendara maupun pejalan kaki memperoleh rasa aman saat beraktivitas pada malam hari.
Keluhan masyarakat juga menunjukkan pentingnya pemeliharaan infrastruktur secara berkala.
Selain memperbaiki PJU yang padam, warga berharap pemerintah turut mengevaluasi kondisi permukaan jalan agar keselamatan pengguna jalan semakin terjamin di salah satu ruas tersibuk yang menghubungkan Jakarta, Depok, dan Bogor.


Tinggalkan Balasan